Seperti biasanya, setiap senin kisha melakukan aktifitasnya untuk membantu di perpustakaan yang ada di kampusnya. Dia sangat menyukai pekerjaannya itu, karena menjadi seorang pustakawan adalah salah satu impiannya. Nah, pada saat kuliah ia ditawari untuk menjadi pustakawan di perpustakaan yang ada dijurusannya. tentu saja dia langsung menerimanya, sudah lama sekali dia menantikan hari itu dan akhirnya terwujud juga.
Hari ini tidak seperti biasanya, entah apa yang terjadi padanya. Tapi ada yang hilang dalam dirinya...
Langkahnya gontai seolah-olah memaksakan diri untuk datang.
"Kenapa lw? Ga biasanya telat?" tanya jehan,
"Ga pa2, cuma lagi males ja." jawabnya lesu.
Jehan adalah rekan kerjanya di perpustakaan yang kebetulan adalah sahabat karibnya. Dia tau benar sifat temannya yang satu ini. Jadi dia masih penasaran, apa yang menyebabkan temannya itu tak bersemangat seperti biasanya.
Kisya adalah anak yang ceria dan suka sekali bercanda...tak jarang teman-teman yang mendengar candanya sampai terpingkal-pingkal mendengarkan cerita atau cletukkannya yang konyol. Kalau kita belum mengenalnya pasti akan berpikiran bahwa dia adalah anak yang jutek dan sangat pendiam. Itu semua salah besar, kalau kita sudah dekat dengannya pasti tak akan pernah bosan. Karena pada saat bersama dia, pasti ada saja hal yang dibicarakan...tapi kalau belum kenal karakternya, tak jarang orang akan tersinggung. Dia selalu berkata apa adanya jadi kalau dia tidak suka pasti dia akan bilang langsung. Tapi hal itulah yang membuatnya berbeda dengan yang lainnya.
"Gimana tugas tugas kuliah lw? dah beres belum?" tanya jehan.
"Belum, ga tau nih jadi males gw bwat ngerjainnya..." jawabnya sambil senyum yang terkesan dipaksakan.
Jehan benar-benar terkejut melihat sikap temannya hari ini. Dia penasaran dengan apa yang terjadi dengan temannya yang satu ini.
"Kisya, sebenarnya ada masalah apa? koq kusut banget mukanya."
"Ga pa2 koq Je...Muka gw nya ja lupa disetrika dulu, jadinya kusut deh." jawabnya sambil tertawa yang terdengar seperti dipaksakan.
"Gw lagi ga becanda nich...cerita dong klw ada masalah. gw mungkin ga bisa nyelesain masalah lw, tapi se-enggaknya gw bisa jadi pendengar yang baik.."
"Gw juga bingung ma diri gw sendiri...tiba-tiba gw ngerasa kalau hidup gw tu ga bermakna." desahnya sambil menyandarkan punggungnya di sandaran kursi yang terletak di sudut ruang perpustakaan yang mengarah ke kaca jendela luar perpustakaan. Ia memandang ke luar dengan tatapan kosong.
Apa yang harus ia lakukan agar temannya itu kembali ceria dan tersenyum lagi..kata jehan dalam hati...
Waktu terus berlalu, tapi keduanya masih tak beranjak dari tempat duduk mereka...tetap sama, masih dalam kebisuan..akhirnya mereka tersadar setelah ada seorang pengunjung yang hendak meminjam salah satu buku yang ada di perpustakaan.
Mereka bergegas menghampiri pengunjung tersebut, dan buru-buru minta maaf karena telah menunggu lama..
Entah mengapa, tapi hari itu benar-benar tidak menyenangkan. Jehan pun mendadak jadi pendiam.
"Maafin gw je...gw ga tau harus ngomong apa ma lw...sebenernya hari ini tu adalah hari kematian bokap gw. sudah 12 tahun berlalu, tapi gw masih ja merasa ga rela." katanya sambil menghela nafas panjang diakhir kalimatnya. Jehan terkejut dengan apa yang dikatakan oleh temannya itu. Dengan refleks Jehan memeluk kisya dengan erat. Keduanya langsung menangis. Ditengah tangisannya, Jehan berkata, "Maafin gw ki, gw lupa kalau hari ini tu hari peringatan kematian bokap lw. lw yang sabar ya, dia pasti dah bahagia disana..bokap lw pasti sedih klw dia tau lw kayak gini.."
Kisya masih tidak bisa berhenti menangis. Perkataan temannya itu malah membuatnya tambah sedih.
"Lw bener je, gw seharunya dah ikhlas dengan apa yang terjadi. makasih je, lw dah mw jd sahabat gw..." jawabnya setengah terisak-isak.
"Tapi lw janji ya? ga kan kayak gini lg...klw da masalah, lw harus cerita ma gw. sapa tau gw bisa bantu.."
"Iya je, gw janji...maafin gw ya..."
dia sadar bahwa dia selama ini sudah sangat egois, dia tidak memikirkan perasaan teman-teman yang ada di sekelilingnya..dia berjanji tidak akan membawa masalahnya ke dalam pekerjaan...karena hal itu bisa membuat teman-teman yang ada di sekelilingnya menjadi tidak nyaman.
Setelah beberapa saat, tangisnya pun mereda dan senyumnya yang tadinya sempat menghilang kini kembali tersungging diwajahnya..
keduanya kembali beraktifitas seperti biasanya...
***THE END***










Tidak ada komentar:
Posting Komentar